Jumat, 25 Januari 2008

s-h-m-i-l-y

Kakek dan nenekku sudah lebih dari setengah abad menikah, namun Tetap memainkan permainan istimewa itu sejak mereka bertemu pertama kali. Tujuanpemainan mereka adalah menulis kata "shmily" di tempat yang secara takterduga akan ditemukan oleh yang lain. Mereka bergantian menulis "shmily" dimana saja di dalam rumah. Begitu yang lain menemukannya, maka yangmenemukan sekali lagi mendapat giliran menulis kata itu di tempat tersembunyi. Dengan jari mereka menorehkan "shmily" didalam wadah gula atau wadah tepung, untuk ditemukan oleh siapapun yang mendapat giliran menyiapkan makanan. Mereka membuatnya dengan embun yang menempel pada jendela yangmenghadap ke beranda belakang, tempat nenekku selalu selalu menyuguhkan pudding warna biru yang hangat, buatannya sendiri.

"Shmily" dituliskan pada uap yang menempel pada kaca kamar mandi setelah seseorang mandi air panas;kata itu akan muncul berulang-ulang setiap kali ada yang selesai mandi.Nenekku bahkan pernah membuka gulungan tisu toilet dan menulis "shmily" diujung gulungan itu. "Shmily" bisa muncul di mana saja. Pesan - pesan singkat dengan "shmily" yang ditulis tergesa-gesa Bisa ditemukan di dasbor atau jokmobil, atau direkatkan pada kemudi. Catatan-catatan kecil itu diselipkan kedalam sepatu atau diletakkan di bawah bantal. "Shmily" digoreskan pada lapisan debu di atas penutup perapian atau pada timbunan abu di perapian. Dirumah kakek nenekku, kata yang misterius itu merupakan sesuatu yang penting, sama pentingnya dengan perabotan. Aku memerlukan waktu yang lama sekali sebelum benar-benar bisa Memahami dan menghargai permainan kakek-nenekku. Sikap skeptis membuatku tidak percaya bahwa cinta sejati itu ada - cinta yang murni mengatasi segala suka dan duka. Meski begitu, aku tak pernah meragukan hubungan kakek-nenekku. Mereka sungguh saling mencintai. Dengan cinta yang lebih mendalam daripada kemesraan yang mereka tunjukkan; cinta adalah cara pedoman hidup mereka. Hubungan mereka didasarkan pada pengabdiandan kasih yang tulus, yang tidak semua orang cukup beruntung untukmengalaminya. Kakek dan nenek selalu bergandengan tangan kapan saja kesempatan memungkinkan. Mereka berciuman sekilas bila bertabrakan didapur mereka yang mungil. Mereka saling menyelesaikan kalimat pasangannya. Setiap hari mereka bersama-sama mengisi teka-teki silang atau permainan acak kata. Nenekku membisikkan kepadaku bahwa kakekku sangat menarik, dan bahwa semakintua kakek semakin tampan. Menurut nenek, dia tahu "bagaimana membuat kakek bahagia."Sebelum makan mereka selalu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas rahmat yang mereka terima: keluarga yang bahagia, rezeki yang cukup, dan pasangan mereka.
Tetapi, dalam kehidupan kakek-nenekku ada satu sisi kelam: nenekku menderita kanker payudara. Penyakit itu pertama kali diketahui sepuluh tahunsebelumnya. Seperti yang selalu dilakukannya, Kakek mendampingi Nenekmenjalani setiap tahap pengobatan. Dia menghibur Nenek di kamar kuningmereka, yang sengaja dicat dengan warna itu agar Nenek selalu dikelilingisinar matahari, bahkan ketika dia terlalu sakit untuk keluar rumah. Sekalilagi kanker menyerang tubuh Nenek. Dengan bantuan sebatang Tongkat dantangan kakekku yang kukuh, mereka tetap pergi jalan-jalan setiap pagi. Tetapi nenekku dengan cepat menjadi lemah sampai, akhirnya, dia tak bisalagi keluar rumah. Suatu hari, apa yang kami takutkan terjadi. Nenek meninggal. "Shmily". Kata itu ditulis dengan tinta kuning pada pita-pita merah jambu yang menghias buket bunga duka untuk nenekku. Setelah parapelayat semakin berkurang dan yang terakhir beranjak pergi, para paman danbibiku, sepupu-sepupuku, dan anggota keluarga lainnya maju mengelilingi nenek untuk terakhir kali. Kakek melangkah mendekati peti mati Nenekku lalu, dengan suara bergetar, dia menyanyiuntuk nenek. Bersama air mata dan kesedihannya, lagu itu dia nyanyikan; lagu nina bobo dalam alunan suara yang dalam dan parau. Tergetar oleh kesedihanku sendiri, aku takkan pernah melupakan Saat itu. Karena pada saat itulah, meskipun aku belum dapat mengukur dalamnya cinta mereka, aku mendapat kehormatan menjadi saksi keindahannya yang abadi. Aku melihat kakek menulis pesan dipusara nenekku.

S-H-M-I-L-Y: See How Much I Love You

Rabu, 23 Januari 2008

first day

ini hari pertama aku bikin blogger, dah lama pengen belajar akhirnya bisa juga. mudah-mudahan bisa share yang bermafaat. nin, makasih ya dah mau ngajarin :)